.:darilangit:. |
|
|
so,... that's what happen in my life [sigh!]
Archives
cool!make sure you click "back" button coz i don't put link there to here. sorry :) office now [at the moment] some words save me? |
Tuesday, August 13, 2002
kau pernah menjadi detak.. dalam nadiku dalam hidupku dan kau pun pernah menyelamatkan seluruh hidupku kau pernah menghujaniku dengan butiran air matamu tapi kau juga .. pernah tertawa dalam pelukku perubahan ini meyakinkan aku bahwa tak ada yang abadi sejak kau putuskan untuk melepaskan hidup kau pernah menjadi terang dalam gelapku .. saat tersesat tapi kau juga.. pernah menyentuh rasa sakitku perubahan ini meyakinkan aku bahwa tak ada yang abadi sejak kau putuskan untuk melepaskan hidup kepergian itu mengajarkan aku bahwa tak ada yang abadi sejak kau putuskan untuk melepaskan hidup tiada yang abadi - jikustik dedicated to my last angel Saturday, August 10, 2002
dah lama, ga posting! setengah dari otak gue kaku karena ga kepake untuk "berpikir" sebagaimana biasanya. gue terlalu berkutat sama pemikiran orang-orang lain beberapa minggu ini. dagh!! setengah dari otak gue berontak. setengahnya lagi meredam. berhasilkah? [entahlah, perdebatan itu masih berlangsung, man!] kemarin malam, mereka berdua berdebat seru. ini resumenya: Hello Me. Hello self. What are you thinking about? This thing called "life." And? I'm really scared. Why? Because I don't know what I am doing. I am just blindly making an attempt to get through this and hoping I do everything right. And I hate this job! So what happens with you? I don't know. What about getting a normal job? Nine to five is a fate worse than death. I think I might completely lose it if I did that. So you have to get a job, then. Could you do the net? That I can do. I don't think that would kill me. I just could not sit in an office and breathe the same stale air every day and not go home and shoot myself. So what about your life? It's temporarily/momentarily/ So what are you going to do about it? Live it. I'm not going to drag a blade across my flesh. But you already are living it. I know. I also know I'm lucky. There could be and is worse, but I don't care. It means nothing to me. This is my path, and who the fuck is anyone else suffering on some far off place on the earth? A victim? Victims need to be helped with a bullet. I want nobody's shit, thank you. I have enough of my own. I created this for myself, and I shall deal with it...like anyone else on this planet with even the slightest buldge of balls. You got it, deal it. That lacked compassion. I know. I wanna take it all back. Where are you going on your path? If I could feasibly go live in a cage with an Internet connection I would. Not possible. I suppose I'll need an apartment. So if you move to an apartment; is _____ going too? Only to defrost my freezer. I am going whether anybody wants to follow me or not. I almost gave shit up for someone once, and I will never make that mistake again. Is there anything you won't give up? I will not give up my family. Mom already made it clear that if I skipped the island for two years, she would not be happy. So I will not give them up within reason. So what happens if you do make it off the island? I don't fucking know. I'm not psychic. Maybe I'll get to sit around and act crazy. Maybe I will still have to act like I have it all together. Maybe I can be crazy on Monday and Wednesday and act like I'm civilized for the rest of the days. Maybe maybe motherfuckin' maybe. What are you seeking? So many things, yet only one comes to mind and that's fine by me. Tell me. no. it is whatever you want it to be. Let's say that you end up making a lot of money by some miracle. What are you going to do with it? Scream out the windows and drink myself to death? I don't know. If anyone is dumb enough to pay me a hundred thousand dollars to write a book or take a picture then I suppose I get what I deserve after that. I know that when my sense of responsibility dies, I'm probably going to die along with it. And what if that occurs? Shit happens. So have we decided anything? No. I want to run away. That's no good. I know. What are we going to do? Anything, I suppose. I can't just give up. I sound like I have it tough. Fuck, right. Sorry about this. I just needed to have it written down somewhere. Wednesday, July 24, 2002
salvator, sabtu sore.. lonceng berdentang kamu, dengan rambut basahmu dengan kaos putihmu dengan celana belelmu dengan sandal kesayanganmu dengan wangi tubuhmu datang dan duduk di sampingku sore itu. dari semua tugasmu dari semua deritamu dari semua keluh kesahmu dari semua kawan baikmu dari semua orang yang bisa membuatmu tertawa kau datang dan memilih duduk di sampingku sore itu. aku: terdiam memandangmu memandang wajahmu memandang matamu yang terpejam memandang mungil bibir yang bergumam memandang tanganmu yang terkatup rapat dalam doa. aku terdiam memandangmu genta itu, debar itu, orang-orang itu, dalam khidmat, khusuk. aku tak pernah peduli. aku hanya diam menatapmu menatap bintang gemintang pada matamu menatap bukit lembut pada pipimu menatap kilau memukau pada rambutmu menatap padamu: malaikat yang datang menyentuhku. ketika semua usai, kau terdiam. duduk memandangku dan tersenyum. kadang kita akan hanya duduk lama dalam diam. kadang kita akan hanya saling memandang. atau terkadang kau genggam erat jemariku, atau terkadang kau bersandar pada bahuku. perlahan, kau berdiri tetap dengan jemariku dalam genggamanmu sehingga aku pun berdiri, dan kau bimbing aku menuju samping altar itu. berlutut. mata terkatup. lamat bibirmu mengucap kau bacakan aku: "salam maria, penuh rahmat..." aku pun: terdiam sekali lagi memandangmu sekali lagi memandang wajahmu sekali lagi memandang matamu yang terpejam sekali lagi memandang mungil bibir yang bergumam sekali lagi memandang tanganmu yang terkatup rapat dalam doa. aku terdiam sekali lagi memandangmu. ingin aku bersama bibir mungilmu mengucap ratusan kata itu. tetapi begitu tahunya kamu tentang aku: tidak semudah itu kata-kata tersebut keluar dari dalam hatiku. lalu setelah itu kita akan berjalan ke depan dengan sangat amat lambat. tanganmu masih menggenggam jemariku. langkah demi langkah tapak demi tapak sangat amat lambat. [dalam waktu itu aku bisa mencium wanginya rambutmu aku bisa meraba lembutnya kulitmu aku bisa merasa degup jantungmu] hatiku menjerit "jangan pergi" tetapi aku selalu tahu yang terjadi setelah itu. ... maka sekali lagi aku terdiam. ketika kamu berhenti sejenak ketika kamu menatapku ketika kamu menarikku mendekatimu ketika kamu memelukku ketika kamu mendekapku erat ketika dengan mencuri-curi sekilas kau cium aku pada pipiku. aku: terdiam. biasanya aku yang akan menggenggam tanganmu setelah itu. "mas, aku harus pulang" kamu usap pipiku kamu usap punggung tanganku kamu cium pada jemarinya "tequiero" katakan padaku, bagaimana aku tidak mencintaimu? dedicated to my last angel Tuesday, July 23, 2002
...sekali lagi tentang kemarin... kemarin ada banyak hal. kemarin ada banyak kejadian. kemarin ada banyak ... ga tau apa yang terjadi kemarin. mungkin sederhana, tapi mungkin terlalu rumit untuk diingat. tapi kalau bukan kemarin, lalu kapan lagi yang mesti diingat, dikenang, dibicarakan, bahkan kalau perlu dibingkai-emaskan menjadi sesuatu yang sangat berharga dan historikal? ya, segala yang dikenang memang dari "kemarin". mana mungkin kita mengenang "besok"? mana mungkin kita mengenang apa yang belum terjadi dan terlalui dalam hidup kita? mana mungkin? simple question. simple matter jadi, mari kita bicara tentang kemarin. mari kita bongkar tentang kemarin.. bukan sesuatu yang menyenangkan untuk diingat, sekaligus bukan sesuatu yang mudah untuk dilupakan gitu aja. tapi itu terjadi. dan begitulah itu terjadi. kemarin gue menemukan bahwa banyak hal terjadi di luar perkiraan gue. kemarin gue menemukan banyak hal yang bikin gue kaget, seneng, terkejut, sumringah, ceria, tertawa hahaha, sampai terjungkal dari tempat gue duduk saking jenakanya. tapi... kemarin juga gue menemukan banyak hal yang bikin gue tersedak, tergagap, terdiam, sekejap hilang, dan begitu menyakitkan... ...terlalu banyak, sampai gue harus berhenti sebentar dari kenyataan, masuk ke dalam bilik kecil gue yang nyaman demi sekedar menenangkan hati dan berharap bisa menghirup udara kembali untuk menyegarkan rongga paru yang tersedak setelah cukup lamanya molekul-molekul O2 itu tidak mengalir ke arah situ. gue masuk ke dalam diri gue. jadi gue ga bisa nulis dan nge-blog, ... [walaupun sebenernya juga banyak alasan lain kenapa sampai gue ga nge-blog lagi beberapa hari terakhir ini ... antara lain karena pyra sekarang banyakan begonya daripada pinternya ... hehehe. tapi, itu bukan urusan penting untuk sekarang. kita sedang membahas "kemarin"nya dunia gue] jadi kita bicara tentang kemarin, karena sekali lagi orang selalu mengenang segala hal tentang kemarin... tidak jadi... hehehe Wednesday, July 17, 2002
tentang kemarin what's so special about yesterday anyway, that i want to write about it in a very special way? dear ... aku telah menjadi kesepianmu kalau menyebabkan luka, aku telah menanggung lukamu. [kini, bolehkah aku menyepi?] malam ini, dengan wajah tertunduk, aku terduduk di depan monitor komputer... mataku tertutup, tanganku terkatup. hatiku berbisik. aku berdoa. untukmu... bisakah kamu menyimpannya untukmu saja? [terima kasih untuk pemberitahuanmu yang menyakitkan itu] but at least you tell me before anyone. thank you |